Groundbreaking Blok Pomalaa Tandai Beroperasinya Proyek Smelter Nikel Terbesar di Dunia

Groundbreaking Blok Pomalaa Tandai Beroperasinya Proyek Smelter Nikel Terbesar di Dunia
Acara peresmian Gound Breaking Blok Pomalaa, Kolaka bersama Gubernur Sultra dan Mentri Luhut Binsar Pandjaitan.

Indosultra.com, Kendari – PT Vale Indonesia memulai groundbreaking proyek tambang dan pabrik pengolahan (smelter) nikel Blok Pomalaa di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara pada Minggu (27/11). Groundbreaking ini menandakan dimulainya proyek yang ditargetkan rampung pada 2025 ini.

Proses groundbreaking tambang dan smelter ini dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Presiden Direktur PT Vale Indonesia Febriany Eddy, CEO Vale S.A. Eduardo Bartolomeo, Chairman Huayou Zhejiang Cobalt Chen, Gubernur Sulawesi Tenggara H. Ali Mazi dan Bupati Kolaka H. Ahmad Safei.

Dalam sambutannya Gubernur Ali Mazi menjelaskan bahwa Gound Breaking Blok Pomalaa ini merupakan buah kerja sama PT. Vale Indonesia, Tbk, dengan perusahaan asal Tiongkok, China, Zhejiang Huayou Cobalt Company. Blok seluas lebih dari 20.000 hektar ini nantinya terbagi atas tiga bagian yakni area tambang, smelter atau pabrik pengolahan nikel, dan port atau pelabuhan, di Blok Polamaa, Kolaka.

“Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki kekayaan sumber daya alam yang cukup melimpah, sehingga membuat Sulawesi Tenggara menjadi salah satu penghasil nikel terbesar di Indonesia, dan akan dapat berkontribusi besar bagi PAD apabila dikelola dengan baik. Kabupaten Kolaka merupakan satu dari beberapa daerah di Provinsi Sulawesi Tenggara yang memiliki potensi tambang nikel yang cukup besar, baik dalam luas lahan maupun dari jumlah cadangan nikel lateritnya, dimana PT Vale Indonesia (Tbk) telah cukup lama menjadi bagian dari pengelolaan potensi tambang nikel di Kabupaten Kolaka,” kata Ali Mazi, dalam rilis persnya, Senin (28/11/2022).

Lebih lanjut ia menyampaikan gambaran singkat kegiatan pertambahan PT Vale Indonesia (Tbk) di Provinsi Sutra. Pertama, area Konsesi PT Vale Indonesia Tbk di Provinsi Sultra telah mengalami beberapa kali pelepasan dan penciutan. Pada tahun 2010 pelepasan 4 blok (Torobulu, Malapulu, Lasolo, Lapaopao) di Sultra dari luas sebelumnya 63.507 hektar menjadi 35.487 ha meliputi :

“Blok Pomalaa, seluas 286 hektar,
Blok Latao, seluas 148 hektar,
Blok Matarape, seluas 680 hektar,
dan Blok Lasusua, seluas 373 hektar.
Tahun 2014 pelepasan Blok Matarape, Latao, dan sebagian Lasusua, dan menyisakan lahan seluas 752 hektar, yang tebagi di dua lokasi, yaitu Pomalaa, bahan tambang nikel seluas 20.286 hektar Lasusua, bahan tambang limestone (batu gamping/ batukapur), seluas 466 hektar,”ujarnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pabrik High Pressure Acid Leaching (HPAL) ini akan menjadi yang terbesar produksinya di dunia.

“HPAL yang terbesar di dunia itu ada di Indonesia. Dan orang nggak bisa bikin baterai kalau nggak ada HPAL ini. Jadi HPAL ini menjadikan satu ekosistem yang sangat penting buat kita,” kata Luhut.

Ia juga menambahkan tidak hanya itu, kinerja perusahaan juga terlihat dari hasil pabrik pengolahan nikel HPAL milik PT. Vale Indonesia, Tbk, di Morowali Sulawesi Tengah. Dilihatnya saat ini baik produksi maupun teknologinya telah berkembang pesat. Karena itulah, dirinya, percaya proyek ini akan mendorong produksi HPAL, hingga perkembangan Electric Vehicle (EV) di Indonesia.

“Proyek ini harus jalan, karena proyek ini membangum satu ekosistem. Bukan membangun satu proyek. Kita ingin membangun satu ekosistem untuk satu litium baterai. Yang nanti bisa lari ke mobil listrik, bisa lari ke mana-mana,” terang Luhut.

“Kenapa saya setuju proyek ini? Karena saya kenal Chairman Chen ini. Saya bersama-sama dengannya pergi ke Jerman, negosiasi dengan BMW, dengan VW. Dan dia dikejar-kejar karena dia punya teknologi yang bagus. Jadi begitu saya dengar dia kawin dengan PT. Vale Indonesia, saya bilang ini adalah pilihan yang tepat,”tambahnya.

Di tempat yang sama, CEO PT. Vale Indonesia, Febriany Eddy menerangkan, proyek ini ditargetkan mampu memproduksi 120.000 ton nikel dan 15.000 ton kobalt per tahunnya. “Proyek ini sudah masuk ke dalam Proyek Strategis Nasional dengan nilai investasi mencapai Rp.67,5 triliun. Dan merupakan pabrik HPAL terbesar,” kata Febriany Eddy.

Ia juga akan memastikan seluruh kegiatan operasi di bawah PT. Vale Indonesia merupakan investasi yang bertanggung jawab dan patuh pada prinsip keberlanjutan. PT. Vale Indonesia menggunakan teknologi HPAL yang disediakan oleh Huayou, yang nantinya secara bertahap akan ada beberapa pengalihdayaan kepada tenaga kerja RI.

“Kami akan terus menjadi mitra bagi masyarakat lokal dan memastikan keseimbangan ekonomi, ekologi, dan dampak sosial. Ia juga berharap, dengan dimulainya proyek pembangunan ini akan dapat menyerap tenaga kerja lokal hingga 12.000 orang dari pabrik dan tambang,”pungkasnya. (b)

Laporan: Ramadhan

Koran Indosultra Koran Indosultra