Indosultra.com, Konawe Utara – Fenomena abrasi pantai kembali terjadi di wilayah Desa Laimeo Kecamatan Sawa, Kabupaten Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara (Sultra), dan menghebohkan warga pesisir.
Hantaman gelombang laut yang terus menerus dalam beberapa hari terakhir dilaporkan kembali mengikis bibir pantai, memicu kekhawatiran masyarakat terhadap ancaman kerusakan lingkungan hingga permukiman warga.
Kejadian itu dilaporkan warga, pada Minggu 14 Juni 2026 malam hari sekitar pukul 22.00 WITA.
“Astagfirullah ya Allah abrasi pantai lagi untuk. Kesekian kalinya,, di kampungku parah skali, di desa laimeo kecamatan sawa kabupaten Konawe utara,, mana tengah malam mati lampu hilang jaringan makin malam makin parah pantai sudah hampir habis longsor pasirnya, semoga kami dalam lindungan Allah mana ksian bapak Queen tdk ada di kampung, “tulis warga dalam unggahan facebooknya, Minggu (14/6/2026) malam.
Sejumlah warga menyebut abrasi kali ini terjadi cukup parah, dengan garis pantai yang terus mundur akibat tergerus ombak besar, terutama saat kondisi cuaca ekstrem dan pasang laut tinggi. Beberapa area pesisir dilaporkan mengalami pengikisan tanah yang signifikan.
Warga yang tinggal di sekitar pesisir mengaku cemas jika kondisi ini terus berlanjut. Mereka khawatir abrasi akan merusak lahan perkebunan, fasilitas umum, hingga mendekati rumah-rumah warga yang berada tak jauh dari garis pantai.
Abrasi pantai sendiri memang menjadi persoalan yang kerap terjadi di wilayah pesisir Konut, khususnya di Kecamatan Sawa dan sekitarnya. Berdasarkan laporan sebelumnya, abrasi di sejumlah titik bahkan pernah mengikis daratan hingga sekitar 20 meter.
Pemerintah daerah diketahui telah melakukan berbagai upaya penanganan, termasuk pembangunan talud dan pemecah ombak di beberapa lokasi rawan.
Masyarakat berharap pemerintah segera turun tangan untuk melakukan penanganan cepat agar abrasi tidak semakin meluas. Selain itu, mitigasi jangka panjang dinilai penting untuk melindungi kawasan pesisir dari ancaman gelombang laut ekstrem yang terus berulang.
Diketahui masyarakat setempat, sebelumnya telah berupaya melakukan penanganan erosi pantai, namun tidak mampu menahan hantaman gelombang.
Sehingga, abrasi yang terjadi menyebabkan masyarakat pesisir menjadi resah, mengingat daratan tempat tinggal mereka selama ini yang menjadi penopang hidup.
Fenomena ini juga menjadi pengingat pentingnya menjaga ekosistem pesisir, termasuk mangrove yang berfungsi sebagai benteng alami penahan abrasi.
Laporan: Ramadhan







































