Jejak Kolonial Belanda dan Jepang di Kota Kendari

Jejak Kolonial Belanda dan Jepang di Kota Kendari

Indosultra.com, Kendari – Wilayah Kendari menjadi saksi perang dunia kedua (PD II). Dua negara yang pernah menjajah Indonesia yakni Jepang dan Belanda menjadikan kota Kendari sebagai daerah pertahanan.

76 tahun Indonesia merdeka, banyak benda peninggalan penjajah hingga kini menjadi saksi sejarah. Beberapa diantaranya mulai diperhatikan oleh pemerintah, bahkan ada juga yang tak terurus. Beberapa lokasi peninggalan sejarah kerap kali menjadi lokasi yang dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun luar daerah.

Di Kota Kendari memiliki situs sejarah yang membekas pada masa penjajahan jepang. Salah satu jejak sejarah itu kini telah dinobatkan sebagai lokasi cagar budaya, yaitu Baterai Mata atau meriam yang berada di wilayah Kelurahan Mata, Kecamatan Kendari, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Jejak Kolonial Belanda dan Jepang di Kota Kendari

Menurut salah satu pegawai Balai Pelestarian Cagar Budaya Makassar, Andika, Baterai ini dibangun sejak tahun 1942 pada masa penjajahan jepang yang dipimpin oleh Kaisar Hirohito. “Bangunan ini menghadap ke laut banda, dengan konstruksi bangunan dari beton, panjang 5,7 meter, lebar 5,5 meter, dan tinggi atap 2 meter,” terang Andika saat ditemui di situs Baterai Mata, kelurahan Mata, Kendari.

Baterai mata merupakan bagian dari pertahanan jepang waktu itu, dilengkapi dengan meriam dan mortir. Baterai ini juga digunakan oleh tentara jepang untuk memantau lalu lintas kapal laut serta udara yang melintas di Teluk Kendari.

Jejak Kolonial Belanda dan Jepang di Kota Kendari

“Meriam ini pernah menembak jatuh pesawat tempur Amerika Serikat dan jatuh di perairan Munse (Konawe kepulauan). Ini meriam otomatis dengan kaliber 3 inchi, diproduksi oleh Steel Company perusahaan baja milik Amerika pada tahun 1918,” terangnya.

Dijelaskan, meriam itu bukanlah milik tentara Jepang melainkan milik Belanda yang dialih fungsikan oleh tentara jepang untuk mengamankan jalur perdagangan di masa itu.

Bahring, salah satu tokoh masyarakat Kelurahan Mata yang juga penjaga bunker meriam itu mengisahkan dari cerita orang tua yang mengalami masa penjajahan menyatakan bahwa bunker meriam tersebut dibangun pada masa perang dunia ke dua. Karena saat itu pesawat pasukan Belanda sering berpatroli di wilayah udara kendari.

Sementara itu, Prof. Anwar, salah seorang sejarawan di Kota Kendari menerangkan, bahwa tentara Jepang masuk di Kendari pada tahun 1942. Namun sebelumnya di tahun 1941 mata-mata Jepang telah masuk di Kota Kendari saat itu, untuk melakukan pengintaian kepada sekutu (Belanda).

“Ada beberapa orang Jepang yang menyamar sebagai pedagang atau pekerja kasar, tapi kalau hari Minggu itu ke pantai untuk memetakan strategi perang, bagaimana nanti strategi perang Belanda sebagai salah satu strategi,” ungkap Prof Anwar diwawancara melalui telepon.

Akhirnya di tahun 1942, pasukan Jepang dengan mudah dapat menguasai Teluk Kendari. Setelah Belanda kalah. pasukan Belanda kemudian mundur ke negara Kangguru (Australia).

Sementara itu, Belanda telah ada terlebih dulu daripada kedatangan tentara Jepang di Kota Lulo (Kendari), hal itu dibuktikan dengan ditemukannya lokasi puluhan makam yang berada di Gunung potong kota lama, Kelurahan Sanua, Kecamatan Kendari Barat, Kendari, Sultra.

Jejak Kolonial Belanda dan Jepang di Kota Kendari

Belanda diketahui masuk di Kota Kendari pada 9 Mei tahun 1830 yang saat ini telah menjadi Hari Ulang Tahun (HUT) Kota. Prof. Anwar menjelaskan bahwa penamaan Kota Kendari tak lepas dari peran Belanda.

“Dulu Kendari disebut Kandai, tapi orang Belanda sebut Kandari dari kata Kandai. Kemudian Vosmayer melapor ke pimpinan Belanda di Makassar, akhirnya dia ditunjuk menjadi perwakilan Belanda di Kendari untuk mengembangkan perdagangan,” jelas dosen sejarah di UHO Kendari.

Vosmayer merupakan seorang peneliti asal Belanda yang pertama kali menginjakkan kakinya di Kota Lulo waktu itu. Ia merupakan seorang ilmuwan dan penulis peta pertama tentang Kota Kendari.

Prof. Anwar menyebutkan bahwa Belanda pernah berjanji untuk membangunkan istana untuk raja Tebau di sekitar pelabuhan Kendari.

Tamrin Tahir Kasim, salah satu warga yang bermukim di dekat makam Belanda itu menyebutkan, bahwa kuburan Belanda yang berada di tanah keluarganya sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. “Dulu daerah ini kan hutan dulu,” kata Tamrin.

Jejak Kolonial Belanda dan Jepang di Kota Kendari

Sambil menunjukkan lokasi makam, Tamrin menunjukkan makam orang-orang Belanda yang kini tidak terurus, hingga wilayah kuburan tersebut telah dibangun pemukiman warga. Di lokasi itu telah ada puluhan makam yang sudah kosong karena telah diambil keluarganya yang datang langsung dari Belanda pada zaman Gubernur Sultra Almarhum Abdullah Silondae.

Jejak Kolonial Belanda dan Jepang di Kota Kendari

Dirinya menyebutkan bahwa dulu makam Belanda itu memiliki ciri arsitektur khas belanda dengan marmer pada tengah makam sebagai hiasan. Namun sayangnya hal itu sudah tidak ada lagi, sebab ada kelompok orang dulu yang mengambil marmer untuk diperjualbelikan.

“Kalau dilindungi dari dulu ini bagus ini, ada marmernya hanya diorang sudah ambil, mahal pak, katanya.

Zaman kolonial Belanda, Kendari adalah Ibukota Kewedanan dan Ibu kota Onder Afdeling Laiwoi. Kota Kendari pertama kali tumbuh sebagai Ibukota Kecamatan dan selanjutnya berkembang menjadi Ibukota Kabupaten Daerah Tingkat II berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959, dengan perkembangannya sebagai daerah permukiman, pusat perdagangan dan pelabuhan laut antar pulau. Luas kota pada saat itu ± 31.400 km². (a)

Laporan Rachmat Ramadhan