Perbaikan Talud Pemecah Ombak di Pudonggala Tuntas, Pemda Konut Dinilai Bertanggung Jawab

Talud pemecah ombak di Desa Pudonggala Utama, Kecamatan Sawa tuntas dibangun kembali setelah beberapa konstruksi roboh di hantam ombak beberapa waktu lalu

Indosultra.com, Konawe Utara-Perbaikan talud pemecah ombak yang berada di Desa Pudonggala Utama, Kecamatan Sawa, Kabupaten Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara (Sultra) tuntas dikerjakan dan kembali berfungsi. Sebelumnya, beberapa konstruksi tersebut sempat roboh akibat dihantam gelombang tinggi air laut 3 sampai 4 meter pada juni lalu.

Aksi penanganan yang dilakukan Pemerintah Daerah (Pemda) Konut melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Konut mendapat apresiasi dari warga sekitar karena dinilai bertanggung jawab. Dan peduli atas peristiwa tersebut demi keselamatan masyarakat yang berada di area pesisir pantai.

“Mewakili masyarakat banyak, kami berterimakasih sekali kepada Pemerintah Konut yang telah menanggapi persoalan abrasi pantai di wilayah kami (Pudonggala Utama Red.) sampai selesai dikerjakan,”kata Kepala Desa Pudonggala Utama, Rustam di komfirmasi, Senin (5/10/2020).

Kepala BPBD, Konut, Rahmatullah mengatakan, sejak robohnya beberapa bangunan talub pihaknya langsung bergerak ke lokasi bersama tim melakukan peninjauan, dan perencanaan perbaikan. Selanjutnya, berkoordinasi ke Pemerintah Pusat.

Diungkapkan, dari 560 meter panjang talud yang dibangun, ada sekitar 100 meter yang roboh dihantam ombak setinggi 4 meter. Saat itu, kondisi musim hujan keras disertai angin kecang.

“Talubnya masih masuk masa pemeliharaan, segala yang terjadi kami bertanggung jawab. Setelah mendokumentasikan dan mengambil data kami laporkan ke pimpinan yang saat ini masih di jabat pak Ruksamin dan berkoordinasi ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat. Alhamdulillah sekarang tuntas diperbaiki,”ujarnya.

Mantan Kadis PU Konut ini menjelaskan, talud tersebut dibangun pada awal februari 2020 melalui dana hibah APBN koordinasi Pemda Konut. Panjangnya, 560 meter dengan ketebalan 90 cm, tinggi dari permukaan tanah 190 cm dengan kedalaman kuku sekira 1 meter atau 2 cincin. Bahannya menggunakan batu gunung dan semen.

Lebih jauh dijelaskan, peristiwa gelombang tinggi saat itu juga merusak rumah-rumah warga yang berada di pesisir pantai Desa Laiemo dan Tanjung Laiemo, Kecamatan Sawa pada bagian belakang akibat hantaman ombak.

“Sekitar puluhan rumah, rata-rata bagian dapur rumah banyak yang rusak karena hantaman ombak. Kita juga sudah tinjau langsung dan laporkan untuk penanganannya,”tutupnya.

Laporan:MR1