Duel Maut di Laut Dangkal, Nelayan Buteng Lolos dari Maut Usai Diterkam Buaya

Indosultra.com, Buteng– Suasana tenang di perairan Desa Kanapa-Napa, Kabupaten Buton Tengah (Buteng), Sulawesi Tenggara, berubah mencekam pada Kamis (8/1/2026) malam.

‎Seorang nelayan bernama Robertus Lantamo (38) nyaris kehilangan nyawa setelah diserang seekor buaya saat sedang menjaring ikan. Beruntung, aksi heroik sang kakak berhasil menyelamatkan nyawanya dari rahang predator tersebut.

‎Saat dikonfirmasi, Kapolsek Mawasangka, IPTU Kamaluddin mengatakan, peristiwa bermula saat Robertus bersama kakaknya, Muslimin (45), pergi melaut sekira pukul 18.00 WITA. Mereka mencari ikan di perairan dangkal yang hanya setinggi pinggang orang dewasa (sekitar 0,5 meter).

‎”Ketika hendak menggulung jaring untuk pulang, Robertus tiba-tiba berteriak histeris meminta pertolongan. Kakaknya yang mendengar teriakan tersebut segera mendekat dan mendapati korban sedang digigit seekor buaya,” ujar Kamaluddin , Jumat (9/1/2026).

‎Melihat adiknya dalam cengkeraman buaya, Muslimin tidak tinggal diam. Tanpa ragu, ia menerjang predator tersebut menggunakan sebilah parang. Ia menebas bagian perut buaya berkali-kali hingga hewan buas itu melepaskan gigitannya dan menghilang ke kegelapan air.

‎Meski berhasil selamat dari maut, Robertus mengalami luka-luka yang cukup parah, di antaranya, Luka robek dan patah tulang. Robekan pada bagian pantat, telapak tangan, serta siku kanan.

‎Korban segera dievakuasi ke darat dan kini tengah menjalani perawatan intensif di Puskesmas Kanapa-Napa.

‎Pihak kepolisian mengungkapkan bahwa insiden serangan buaya di wilayah perairan Kanapa-Napa bukanlah yang pertama kali. Wilayah ini kian mengkhawatirkan bagi keselamatan masyarakat pesisir.

‎”Kejadian ini menunjukkan adanya potensi ancaman serius. Kami merekomendasikan koordinasi lintas sektor, mulai dari Pemda, BKSDA, hingga BPBD untuk mitigasi keberadaan buaya di lokasi tersebut,” tambah IPTU Kamaluddin.

‎Polsek Mawasangka juga mengimbau warga agar ekstra waspada saat beraktivitas di laut, terutama pada malam hari, guna menghindari jatuhnya korban berikutnya.


‎Laporan: Krismawan

Koran Indosultra