Indosultra.com, Muna – Bencana tanah longsor yang melanda Kecamatan Pasi Kolaga, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra), telah memutus total akses utama yang menghubungkan tiga desa Mata Indaha, Kolese, dan Tampunabale.
Kondisi ini melumpuhkan nadi ekonomi dan pendidikan di wilayah tersebut, memaksa warga untuk mengambil risiko demi melintasi jalan yang rusak parah.
Berdasarkan video yang diterima Redaksi, kerusakan di jalur Tampunabale–Kolese bukan sekadar lubang biasa. Badan jalan dilaporkan amblas sepanjang kurang lebih 35 meter, menciptakan jurang menganga yang memisahkan antar-desa.
Kondisi tanah yang masih labil menambah tingkat bahaya, namun tidak menyurutkan niat sebagian warga untuk tetap melintas menggunakan kendaraan roda dua dengan ekstra hati-hati.
”Ini jalan poros utama. Hari ini kondisinya semakin parah. Jalan ini adalah jantung bagi tiga desa kami,” ujar seorang warga dalam rekaman video yang beredar.
Putusnya akses jalan ini membawa dampak serius, terutama bagi para pelajar. Sebagai satu-satunya akses menuju sekolah, anak-anak di wilayah tersebut kini harus berjuang lebih keras untuk mencapai ruang kelas.
Kekhawatiran akan kelumpuhan total aktivitas pendidikan dan terganggunya distribusi logistik warga semakin mengemuka jika kondisi ini tidak segera ditangani.
Sebuah harapan sempat muncul melalui unggahan media sosial dari akun Mardin, yang mengindikasikan bahwa perbaikan permanen direncanakan masuk dalam agenda Tahun Anggaran (T.A.) 2026.
“Alhamdulillah, sementara dalam proses akan dikerjakan di T.A. 2026. Jalan poros yang putus akibat longsor di batas Desa Tampunabale–Kolese,” tulisnya dalam keterangan unggahan tersebut.
Meskipun adanya rencana perbaikan di tahun 2026 memberikan sedikit titik terang, warga merasa jangka waktu tersebut terlalu lama untuk sebuah akses yang sangat vital bagi kelangsungan hidup mereka.
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah daerah setempat belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait langkah tanggap darurat untuk menangani kerusakan tersebut sebelum perbaikan permanen dilakukan.
Masyarakat kini hanya bisa berharap pemerintah tidak menutup mata terhadap kondisi kritis ini dan segera mengirimkan bantuan alat berat atau membuat jalur alternatif yang lebih aman bagi warga, terutama anak-anak sekolah.
Laporan: Krismawan









































