@indosultra.com Bertaruh Nyawa demi Ilmu: Siswi SMP di Kolaka Menantang Arus Sungai Setiap Hari Indosultra.com, Kolaka – Di saat anak-anak lain mengkhawatirkan tugas sekolah atau hobi, para siswa SMP di Desa Mataosu, Kecamatan Watubangga, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra), harus memikirkan cara untuk bertahan hidup setiap pagi. Demi mencapai ruang kelas, mereka terpaksa menjadikan sungai yang deras sebagai jalur utama perjalanan. Sebuah video baru-baru ini viral, memperlihatkan dua siswi berseragam batik yang memberanikan diri menyuarakan jeritan hati mereka langsung kepada penguasa daerah. Dengan latar belakang alam yang asri namun menyimpan bahaya laten, kedua siswi tersebut mengirimkan pesan terbuka yang ditujukan kepada Gubernur Sultra dan Bupati Kolaka. Selengkapnya di indosultra.com #indosultracom ♬ suara asli – Indosultra.Com.
Indosultra.com, Kolaka – Di saat anak-anak lain mengkhawatirkan tugas sekolah atau hobi, para siswa SMP di Desa Mataosu, Kecamatan Watubangga, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra), harus memikirkan cara untuk bertahan hidup setiap pagi. Demi mencapai ruang kelas, mereka terpaksa menjadikan sungai yang deras sebagai jalur utama perjalanan.
Sebuah video baru-baru ini viral, memperlihatkan dua siswi berseragam batik yang memberanikan diri menyuarakan jeritan hati mereka langsung kepada penguasa daerah.
Dengan latar belakang alam yang asri namun menyimpan bahaya laten, kedua siswi tersebut mengirimkan pesan terbuka yang ditujukan kepada Gubernur Sultra dan Bupati Kolaka.
”Kami ingin menyampaikan keluh kesah kami saat pergi ke sekolah. Tolong Pak Gubernur, Pak Bupati, lihat desa terpencil kami. Kadang kami tidak sekolah kalau banjir,” ucap mereka dengan suara lirih namun penuh harap.

Bagi warga Desa Mataosu, sungai tersebut adalah satu-satunya urat nadi sekaligus penghalang terbesar. Saat cuaca cerah, menyeberangi sungai mungkin hanya sekadar rintangan fisik. Namun, ketika musim hujan tiba arus sungai berubah dan banjir terpaksa para siswa dipastikan absen dari sekolah karena tidak ada akses alternatif.
Potret buram pendidikan di pelosok Sultra ini memicu keprihatinan luas. Bukan fasilitas mewah yang mereka minta, melainkan sebuah jembatan sebuah sarana sederhana yang mampu menjamin mereka pulang dan pergi dalam keadaan selamat.
Laporan: Krismawan








































