Indosultra.com, Kolaka Utara – Dedikasi luar biasa kembali terlihat dari para pahlawan tanpa tanda jasa di pelosok Sulawesi Tenggara. Demi mencerdaskan generasi penerus bangsa, para guru di SD Negeri 11 Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara, rela mempertaruhkan nyawa setiap hari hanya untuk sampai ke tempat mereka mengabdi.
Jalan menuju sekolah bukanlah perjalanan yang aman dan nyaman. Mereka wajib melintasi sebuah jembatan gantung di Dusun 6 Laoro Dangge, Desa Batu Ganda, Kecamatan Lasusua, yang kondisinya sangat memprihatinkan dan nyaris tak layak dilalui.
Papan-papan kayunya sudah lapuk dan rapuh, tali penyangganya pun terlihat lemah, seolah bisa runtuh kapan saja. Di bawah jembatan itu, sungai berarus deras mengalir deras, siap menelan siapa saja yang salah melangkah atau tergelincir sedikit saja.
Maut nyata mengintai di setiap langkah, namun bahaya itu sama sekali tidak mampu memadamkan semangat mereka untuk menunaikan tugas mulia mencerdaskan anak bangsa.
Perjuangan berat ini terekam dalam sebuah video yang diterima redaksi. Dalam rekaman itu, terlihat jelas bagaimana para guru harus berjalan dengan sangat hati-hati, menyeimbangkan tubuh di atas susunan kayu yang sudah tak kokoh, sementara suara gemuruh air sungai di bawahnya terdengar mengancam. Setiap langkah yang diambil terasa menegangkan, seolah nyawa berada di ujung tanduk.
Momen heroik ini pertama kali diunggah ke media sosial oleh akun Busatam, yang langsung menuai perhatian luas. Dalam unggahannya, ia menuliskan kekaguman yang mendalam.
“Luar biasa perjuangan para Guru SDN 11 Lasusua di Dusun 6 Laoro Dangge, Desa Batu Ganda. Setiap hari mereka harus melewati jembatan gantung berbahaya ini hanya untuk sampai ke sekolah dan menjalankan tugas mulia,” tulisnya.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, keselamatan, dan keberkahan dalam setiap langkah pengabdian kalian. Jasa-jasa kalian akan selalu dikenang dan tak akan hilang ditelan waktu.
Kisah ini menjadi cermin sekaligus tamparan keras bagi semua pihak, membuktikan bahwa akses pendidikan yang layak dan fasilitas penunjang yang memadai belum sepenuhnya merata di seluruh pelosok negeri.
Di saat anak-anak di kota besar menikmati fasilitas sekolah yang lengkap, aman, dan nyaman, di sudut terpencil Desa Batu Ganda ini, para guru harus berdamai dengan bahaya setiap hari, hanya demi memastikan anak-anak di desa tidak tertinggal dan tetap mendapatkan hak pendidikan mereka.
Unggahan tersebut dengan cepat menjadi viral, membanjiri media sosial dengan beragam komentar yang berisi rasa haru, kekaguman, dan simpati mendalam dari warga maya.
Tak hanya sekadar memuji keteguhan hati para guru, masyarakat luas kini bersatu mendesak pemerintah daerah serta instansi terkait untuk segera turun tangan.
Masyarakat berharap perbaikan infrastruktur segera dilakukan, sebelum jembatan lapuk itu memakan korban jiwa dan merenggut nyawa para pengajar yang berdedikasi tinggi ini.
Laporan: Krismawan







































