Indosultra.Com, Konawe Utara – Bupati Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara (Sultra), Dr. Ikbar, SH.,MH turun langung meninjau lokasi abrasi pantai yang terjadi si Desa Tanjung Laimeo, Kecamatan Sawa, Kamis 18 Juni 2026.
Turut mendampingi, Sekertaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Konut, Kepala Dinas Kominfo Konut, Djunaedi, S.Pd.,M.Pd, Dinas Pemerdayaan Masyarakat Desa (DPMD), dan Pemerintah Kecamatan.
Sebagaimana di ketahui, sebelumnya wilayah Desa Tanjung Laimeo, tepatnya area pesisir pantai pada pekan lalu terjadi abrasi pantai. Kondisi itu membuat masyarakat sekitar pesisir pantai panik.
Abrasi diduga adanya pengikisan tanah atau batuan di wilayah pantai yang disebabkan oleh tenaga air laut, terutama ombak dan arus.
Berkaitan hal itu, dari hasil peninjauan oleh tim dari Pemda Konut menerangkan, fenomena yang terjadi di Pantai Laimeo adalah longsoran tipe low slide dalam skala relatif kecil.

Fenomena ini diungkapkan bukan pertama kali terjadi akan tetapi sudah
terjadi di beberapa tahun sebelumnya dengan posisi yang berpindah-pindah.
Dari hasil penulusuran, dugaan sementara, lapisan terlemah berada pada fasies 6 terutama pada kedalaman sekitar 9 m- 10 m berdasarkan data sondir CPT-1 yang berlokasi di dekat pantal saat ini dari kedalaman hingga 20 m yang berhasil diobservasi.
Lapisan lemah berikutnya setelah fasies 6 adalah berada pada fasies 2 dan 3 terutama sekitar kedalaman 3 meter hingga 7 meter. Hal ini terkonfirmasi juga dari interpretasi radargram GPR.
Fenomena longsoran di Pantai Laimeo belum begitu jelas penyebab utamanya. Namun, secara kualitatif dugaan sementara atau hipotesa penyebab utamanya adalah Longsoran terjadi karena perpaduan abrasi/scouring, proses erosi buluh dan proses likuefaksi pada akuifer dangkal yang berbatasan dengan laut.
Berkaitakan hal itu, langkah pemerintah Konut bekerjasama stakholder terkait mengatasi hal tersebut yakni, pemukiman yang berada di dekat garis pantai, akan dilakukan perkuatan lereng pantai untuk mencegah kemungkinan terjadinya longsoran di masa mendatang yang sifatnya dapat berpindah-pindah.
Perkuatan lereng dari aspek geologi pada kasus ini adalah lapisan
lemah (yang berada di bawah permukaan laut), baik karena efek getaran gempabumi, proses abrasi/ scouring, dan erosi buluh.
Karena tinjauan ini merupakan peninjauan cepat (quick assesment), perkiraan lapisan lemah masih merupakan indikasi awal dan masih perlu di evaluasi ketika perkuatan lereng akan diaplikasikan
Dan untuk masa mendatang, pembangunan pemukiman dan infrastruktur sebaiknya tidak didirkan sepanjang garis Pantai Laimeo, kecuali telah dilakukan kajian studi kelayakan terutama pada aspek keamanan terhadap bencana geologi
(abrasi/scouring, longsoran, dan tsunam) dan kajian perkuatan dengan rekayasa teknik.
Kemudian perencanaan teknis di masa mendatang akan menggunakan konsultan perencana yang ahli di bidangnya dengan memperhatikan saran point 1, 2.dan diatas sebagai dasar pertimbangan dari sudut geologi.
“Kami sudah kooridnasikan ke stakholder tarkait, BMKG untuk sama-sama kita lakukan penanganannya,”tutup Bupati Konut, Ikbar.***
Laporan: Redaksi









































